Indonesia Bidik Perluasan Pasar Produk Kehutanan di AS Lewat Penguatan SVLK+

By Admin


Dok. Kementerian Kehutanan
nusakini.com, Washington DC — Pemerintah Indonesia memperkuat strategi perluasan pasar produk kehutanan ke Amerika Serikat melalui penguatan sistem legalitas dan keberlanjutan produk kayu nasional. Langkah tersebut mengemuka dalam webinar internasional bertajuk Navigating U.S. Market Access for Indonesian Forest Products: Trade, Legality, and Sustainability yang digelar Kementerian Kehutanan bersama KBRI Washington D.C. dan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Kamis (14/5/2026).

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan hubungan perdagangan produk kehutanan Indonesia dan Amerika Serikat telah berlangsung lebih dari tiga dekade. Menurut dia, hubungan tersebut dibangun di atas kepercayaan terhadap kualitas produk dan komitmen pengelolaan hutan lestari.

“Kayu lapis Indonesia yang masuk ke Amerika Serikat bukan berasal dari hutan yang dikelola secara ilegal. Produk kami bersertifikat, dapat ditelusuri, dan diverifikasi legalitasnya melalui sistem SVLK+,” kata Raja Juli Antoni dalam pidato kuncinya.

Ia menyebut lebih dari 70 persen ekspor plywood Indonesia ke pasar Amerika Serikat telah mengantongi sertifikasi FSC maupun Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK+). Pemerintah juga mendorong diversifikasi produk kehutanan agar tidak hanya bertumpu pada plywood dan kayu dipterokarpa.

Menurut Raja Juli Antoni, Indonesia memiliki potensi berbagai jenis kayu yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung industri konstruksi, furnitur, hingga recreational vehicle (RV) di Amerika Serikat.

Ketua Umum APHI Soewarso mengatakan Amerika Serikat masih menjadi salah satu pasar strategis bagi produk kehutanan Indonesia. Pada 2025, nilai ekspor produk kayu olahan Indonesia ke negara tersebut mencapai sekitar 1,94 miliar dolar AS atau sekitar 15 persen dari total ekspor produk kayu olahan nasional secara global.

“Perubahan lanskap perdagangan global menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi industri hasil hutan. Karena itu, dialog terbuka antara pemerintah, pelaku usaha, dan mitra dagang sangat penting untuk menjaga perdagangan yang adil dan berkelanjutan,” ujar Soewarso.

Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Dwisuryo Indroyono Soesilo menilai permintaan pasar AS terhadap produk yang transparan dan memiliki rantai pasok berkelanjutan terus meningkat. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi produsen Indonesia untuk memperluas pangsa pasar di tengah meningkatnya tuntutan global terhadap aspek keberlanjutan.

Webinar tersebut turut menghadirkan pelaku industri kehutanan Indonesia dan Amerika Serikat, termasuk International Wood Products Association serta Recreation Vehicle Industry Association. Forum bisnis ini juga didukung Program Multi-Stakeholder Forestry Programme Phase 5 (MFP5), kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Inggris di bidang tata kelola kehutanan berkelanjutan. (*)